Jumat, 02 September 2016

Hujan Lebih Awal Datang Menyapa Disaat Periode Musim Kemarau

Saat ini masyarakat seringkali menyodorkan pertanyaan mengapa pada musim kemarau masih saja terjadi hujan? Banyak tanda tanya yang menyelimuti pikiran dan benak masyarakat. Tak sedikit masyarakat yang paham dan mengerti mengapa kondisi ini bisa terjadi. Ada hal yang mungkin kita lupakan, Kita bisa mengatur perilaku petani dan masyarakat, tetapi ada yang tidak bisa kita atur yaitu alam. Jika kita mengelupas “alam”, banyak faktor yang mempengaruhi perubahan-perubahan yang terjadi di alam ini, misalnya dinamika cuaca dan iklim. Sadarkah kita bahwa kita berada di tengah suatu ‘sistem alam’ yang sering berubah?



Berdasarkan monitoring BMKG dan release yang dikeluarkan pada 14 Maret yang lalu, sebagian wilayah Indonesia memasuki musim kemarau mulai bulan Mei dan Juni 2016 yaitu sebanyak 66 %.
Seperti release yang dikeluarkan Maret lalu oleh BMKG, bahwa bahwa Daerah yang telah memasuki musim kemarau sejak bulan Februari 2016 meliputi pesisir timur Sumatera Utara dan Riau (Dumai, Bengkalis, Siak, RoHil dan Meranti).
Sementara daerah yang perlu diwaspadai, yaitu: Riau bagian Timur, Sumatera Utara bagian Timur, dan Sulawesi Selatan bagian Tengah karena di prediksi Awal Musim Kemarau maju 2-3 Dasarian dengan Sifat Hujan di Bawah Normal.
Seperti yang kita ketahui bahwa kita tidak bisa mengatur perilaku iklim dan cuaca, maka sejak bulan April hingga saat ini beberapa wilayah Indonesia masih terjadi hujan. Kondisi alam ini pun menyedot banyak perhatian publik baik dari masyarakat, maupun media massa.
Pada periode Juni, seharusnya dari sebagian wilayah Indonesia, mulai dari Sumatera bagian Barat, Jawa, Kalimantan hingga Sulawesi mengalami curah hujan menengah 100-300 mm. Sementara untuk bagian Timur, Kepulauan Nusa Tenggara dan Papua bagian selatan mencapai curah hujan rendah atau menengah 50-150 mm. Tetapi pada kenyataan ini, pada periode musim kemarau saat ini terjadi hujan.
Jika kita mengelupas  gangguan cuaca  secara global dapat dipenyaruhi oleh berbagai faktor yakni La- Nina dan El-nino, Dippole Mode, Fenomena Ossiliasi Madden_Julian (MJO), serta Sea Surface Temperature (SST).
          Kita mengerti dan paham bahwa gangguan cuaca dapat menimbulkan beberapa perilaku cuaca yang menyimpang seperti yang kita jumpai di headline surat kabar, yaitu: ketinggian gelombang laut, dan angin kencang.
         
Benarkah La Nina Penyebab Terjadinya Hujan Pada Musim Kemarau?
Pada pertengahan 2016,  tak jarang kita temui media massa cetak, elektronik, dan online yang mengangkat kondisi iklim di Indonesia menjadi headline news di media massa cetak, elektronik, dan online. “Mengapa masih terjadi hujan, padahal saat ini seharusnya musim kemarau?” pertanyaan itu yang sering muncul di tengah-tengah masyarakat.
Kita pun sering mendengar pertanyaan Apakah fenomena La Nina Lemah tahun 2016 akan bertahan dan menambah “basah” wilayah Indonesia?
Sebelum kita mengelupas pertanyaan yang ada di tengah-tengah masyarakat, sejenak kita tengok kebelakang kejadian pada tahun 2010, kita masih ingat akan fenomena la-nina. Di tahun 2010, la-nina pada intensitas sedang dan kemudian melemah menjadi kondisi ENSO Netral dan kembali menjadi La-Nina lemah pada pertengahan 2011.
La-Nina (Memanasnya suhu muka laut di wilayah Perairan Indonesia), Fenomena ini berdampak terhadap peningkatan  curah hujan di wilayah). Tetapi, kita tidak hanya terfokus pada la-nina saja, banyak faktor yang mempengaruhi dinamika atmosfer.
          Berdasarkan monitoring BMKG, Sejak April lalu hingga saat ini La-Nina dalam skala lemah (-), tetapi suhu muka laut di wilayah Perairan Indonesia hangat sehingga menimbulkan penguapan yang akan menimbulkan potensi hujan. Tak hanya itu, tetapi jika dilihat pada MJO, Kondisi ini aktif  di Perairan Indonesia bagian timur dan berlanjut hingga pertengahan Agustus.
          Sementara jika dilihat dari pergerakkan angin monsoon, saat ini angin monsoon Australia dalam kondisi lemah. Kondisi inilah yang mengakibatkan beberapa wilayah terguyur hujan.
          Pada Agustus I sebanyak 253 ZOM (74%) baru masuk musim kemarau, sedangkan 89 ZOM (26%) belum masuk musim kemarau, seperti Jawa, Bali, NTB, Sulawesi, dan Maluku. Sementara itu, ada beberapa wilayah yang tidak mendapatkan musim kemarau, seperti Lebak Bagian Tengah dan Selatan, Bogor Selatan Bagian Timur, dan Sukabumi Bagian Barat.
         
Kemarau tahun ini lebih basah
Berdasarkan analisis curah hujan hingga pada periode Juli 2016 menunjukkan terjadiya anomali hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. Kondisi  “Lebih Basah” pada tahun 2016 dari situasi normal yang terjadi pada periode bulan yang sama, atau yang sering kita dengar “Kemarau Basah”. Kondisi inilah telah  sebelumnya dan disampaikan melalui Jumpa Pers pada tanggal 3 Juni 2016.
Pada bulan Juni 2016, BMKG juga melaporkan bahwa beberapa wilayah (27.2%) hingga saat ini belum memasuki musim kemarau dan masih terus didera oleh curah hujan yang tinggi. Situasi ini menegaskan terjadinya “kemarau basah” atau sering dikenal pula “wet spell”.  Kondisi tersebut lebih disebabkan oleh pengaruh:
§ Tidak kuatnya Monsun Australia (Angin Timuran);
§ Kondisi SST di perairan Indonesia yang lebih hangat;
§ Indian Ocean Dipole (IOD[1]) Mode Negatif (nilai Indeks DMI = –1,09);
Sementara Berdasarkan montoring BMKG, pada Mei dan Juni 2016 titik panas disejumlah wilayah sudah mulai menurun, tetapi pada Agustus 2016, titik panas ada di sejumlah wilayah Riau, Kalimantan Barat, dan Sumatera Selatan. Kondisi ini tidak separah dibandingkan tahun 2015. Tidak hanya itu, tetapi berdasarkan pemantauan BMKG, perkembangan Hot Spot pada September, Oktober, November, Desember hampir tidak ada.

Hingga dasarian Agustus I - 2016, sebanyak 253 ZOM (74%) sudah memasuki musim kemarau. Sementara sebanyak 89 ZOM (26%) yang belum masuk musim kemarau / masih mengalami musim hujan di periode 2015/16 diantara ZOM tersebut terdapat 12 ZOM diprakiran tidak mengalami kemarau (hujan sepanjang tahun 2016). Andi Eka menuturkan Awal Musim Hujan 2016/17 di sebagian besar wilayah Indonesia akan terjadi pada Agustus – November 2016 (92,7 %).
Kita perlu meningkatkan kesiapan menghadapi musim hujan karena kondisi ini akan membawa dampak negatif dan postif ke berbagai sektor. Dampak positif, yaitu meningkatnya potensi luas tanam sawah, meningkatkan frekuensi tanam, ketersediaan air untuk pertanian dan waduk. Sedangkan beberapa dampak negatifnya antara lain: Peningkatan potensi banjir dan longsor, penurunan produksi kopi, tambakau, garam, tanaman buah tropika, dan tingginya gelombang mengganggu kegiatan nelayan
         











Senin, 09 November 2015

KETEBALAN ES MENYUSUT 5,26 m

Akhir-akhir ini wilayah kita sering merasakan suhu yang ekstrim kadang merasakan panas dan kadang kita pun merasakan suhu yang drop. Suhu panaspun perah dirasakan di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk wilayah Ibukota yang pernah diterjang suhu tinggi, terlebih saat musim kemarau. Tak hanya itu, pergeseran musim pun juga terjadi. Musim seolah-olah sudah tidak menentu. Kondisi ini disebabkan oleh adanya peningkatan emisi karbon dari aktivitas kita sebagai manusia. 
Bumi yang kita pinjak sudah tidak ramah dengan kita. Kondisi inilah yang seharusnya dijadikan cerminan dari apa yang telah kita berbuat terhadap alam kita.Kearifan kita terhadap alam sudah tidak ada lagi nilainya. Manusia menjadikan alam sebagai objek. keserakahan mereka.
Puncak gunung es puncak Jaya  Papua akan menjadi sebuah cerita lama,  sudah tidak ada lagi salju abadi. Kondisi ini terbukti dari kesaksian seorang pendaki gunung `seperti yang dikatakan Irawan, salah satu pendaki dari Tim 7 Summit Expedition pada 2010 sampai 2012 lalu yang dikutip pada laman merdeka.
Menurut kesaksiannya, Irwan menuturkan bahwa dirinya yang pernah mendaki Puncak Cartenz. Keprihatinan itu muncul tatkala pada pendakian 2008 Dia melihat salju abadi telah hilang sepanjang 200 meter dari lidah gletser di Puncak Cartensz bagian timur. "Sudah bergeser 200 meter dari lidah gletser,seperti yang dikutip pada laman Merdeka.
Salah satu pendaki, Dwi yang turut mendaki puncak Cartenz yang saat itu mendaki bersama Kepala Bdang Iklim dan Kualitas Udara, Dodo Gunawan mengutarakan bahwa ketebalan es di Puncak Cartenz telah mengalami penipisan.
Penipisan balutan es yang menyelimuti puncak gunung tersebut membuktikan bahwa bumi kita kian lama semakin rusak dan panas. . Mungkin kedepannya sudah tidak ada julukan lagi es abadi.
Suhu semakin lama semakin panas, kondisi ini merupakan akibat dari ulah manusia  yang sudah tak lagi ramah dengan lingkungan. Mau dan relakah kita berdiam diri membiarkan alam kita menjadi rusak?

BMKG Berangkatkan 6 Peneliti Ke Kutub Selatan & Puncak Jaya Papua

            Kepala BMKG, Dr. Andi Eka Sakya, M. Eng melepas 6 peneliti untuk melakukan ekspedisi ke puncak Jaya Papua dan Kutub Selatan. Pada ekspedisi ke Kutub Selatan untuk memahami pengaruh laut terhadap iklim dan cuaca, Sementara ekspedisi ke Puncak Jaya Papua untuk memahami dampak pemanasan global terutama di wilayah torpis (Khatulistiwa).
            Dua peneliti yang melakukan kedua ekpedisi tersebut adalah: Wido Hanggoro dan Kadarsah yang akan melakuan ekpedis ke Stasiun Meteorologi Davis di Kutub Selatan bersama dengan Tim Ekspedisi Bureai of Meteorology (BoM)-Australian Antarctc Division (AAD). Empat nama lagi yang melakukan ekpedisi ke Puncak Jaya Papua adalah Dyah Lukita Sari, Ferdikka A. Harapak, Najib Habibie, dan Donny Kristianto.
Kepala BMKG mengutarakan bahwa kedua ekspedisi tersebut dapat dijadikan masukan yang berharga bagi rangkaian penelitian tahun 2017-2019 yang merupakan Tahun Benua Maritim (Year of Maritime Continent-YMC) dan Year of Polar Initiative di Antartika. Masukan tersebut merupakan batu-tapak pemahaman hubungan tekoneksi klim antara wilayah tropis dengan antartika.
            Kegiatan ekspedisi ini pun mendukung program Joko Widodo  di dunia kemaritiman karena mengingat Indonesia merupakan wilayah lautan lebih dari 70%, dari situasi inilah pemerintah mentikberatkan pada program kemaritiman .
            Kita sadar bahwa Indonesia merupakan wilayah yang unik, mengapa?Ya, karena Indonesia dikelilingi lautan dan dihiasi teluk dan semenanjung. Tak hanya itu, Indonesia pun memiliki gunung dan pergunungan yang berjejer. Kondisi inilah yang membuat wilayah Indonesia menjadi wilayah pertemuan angin.
            Wilayah Indonesia sering didominasi oleh Sirkulasi monsoon dingin Asia (Oktober-Maret) dan Sirkulasi monsoon panas Australia (April-September). Kedua sirklusi tersebut sangat berpengaruh pada faktor iklim di Indonesia.
            Posisi strategis geografi Indonesia menjadi kunci pemahaman dinamika iklim dan geografi Indonesia menjadi kunci pemahaman dinamika iklim dan perubahannya.  Langkah ini menjadi bagian dari BMKG untuk melakukan penelitian sebagai upaya pelayanan meteorologi, klimatologi, dan geofisika serta peningkatan SDM Indonesia.

Stake Ditemukan, Bukti Penyusutan Ketebalan ES
Tahun 2010, tepatnya 5 tahun yang lalu, telah dilakukan pengeboran es (drilling ice core) di Puncak Soemantri yang berada di Pegunungan Soedirman, Timika, Papua. Kegiatan ini bekerjasama antara Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika dengan The Ohio State University dan PT. Freeport Indonesia.

Pada ekspedisi ini, di glacier sekitar Puncak Sumantri telah dibor lapisan esnya pada tiga tempat  dengan kedalaman yang berbeda, yaitu: 32,13 m; 31,5m; dan 26, 19 m. Dari ketiga lubang bekas bekas pengeboran salah satunya  yang berada di Puncak Sumantri yang diberikan tanda berupa pipa yang dihubungkan dengan tali didalamnya, serta tiang sebagai penanda diatasnya.

Tahun 2014  pun dilakukan penelitian ke Puncak Sumantri, untuk mengecek perubahan ketebalan es dengan mengukur perubahan tiang yang tertimbun es tetapi stake yang “ditanam saat 2010 tidak dapat ditemukan.

Satu tahun berikutnya, empat peneliti BMKG bersama tim dari Ohio State University dan PT Freeport melakukan ekspedisi ke Puncak Sumantri selama 7 hari . Perjalanan ini pun tak jarang menghadapi cuaca yang sering berubah dan sulit ditebak, sering terjadi hujan pada siang dan malam di wilayah Tembagapura, seperti kesaksian salah satu Tim Ekpedisi BMKG, Muhammad Najib Habibie.

Salah seorang peneliti wanita, Dyah Lukita Sari menceritakan bahwa  Tim berangkat dari Jakarta Pada minggu (1/11) malam pukul 21.00 dan tiba di Tembagapura Senin pagi (2/11).  Setelah melakukan  cek kesehatan pada hari senin, dan rapat dalam menentukan target ekpedisi dengan Environmental Departement, mereka melakukan fly over pada Rabu (4/11)  pukul 7.15 WIT dengan menggunakan chooper.

Pada melakukan fly over, tim yang ikut terlibat adalah Yohanis Kaize (Enviro), Rumlus D (ERG) dan Muhammad Najib Habibie (BMKG). Perjalanan mmenggunakan chooper menempuh waktu 20 menit hingga pada akhirnya tiba ke glacier dan menemukan stake pukul 07.35 WIT .

Pada saat itu, cuaca cepat berubah , dan waktu yang diberikan pilot chooper hanya 5 menit. Tim segera melakukan pengukuran stake, mengukur tebal salju, mengambil sampel salju, dan mendokumentasikannya. Setelah selesai pengukuran, dengan cepat glacier tertutup awan sehingga chooper harus segera mengudara lagi untuk menghindari kecelakaan. Pukul 08.00, tim sampai ke helipad lagi.

Pada fly over ini stake dengan mudah di temukan karena sudah berada di permukaan es. Hal ini berkaitan dengan fenomena El Nino tahun 2015 yang berpengaruh sangat besar terhadap pencairan es di Pegunungan Soedirman. El Nino ini berpengaruh terhadap tidak turunnya hujan di Tembagapura selama hampir 2 bulan, dengan kondisi ini maka es yang berada di Pegunungan banyak yang mencair. Posisi stake saat ditemukan sudah berada di permukaan es.


Dari hasil pengukuran stake, ditemukan bahwa dibandingkan dengan kondisi 2010, bahwa pada 2015 terjadi pengurangan ketebalan lapisan es sebesar 5,26 m. Akan tetapi pengurangan ini berlaku secara linear atau fluktuatif bergantung musim dan fenomena global (El Nino Southern Oscillasion / ENSO), belum diketahui secara pasti. Untuk itu perlu dilakukan pemantauan secara berkesinambungan mengenai siklus pencairan dan pembentukannya.
                                                                                                                          
Penipisan ketebalan es menunjukkan bahwa adanya aktvitas el –nino yang memicu terjadinya pencairan es dan menghambat terjadinya pembentukan salju baru.

Seperti yang dikatakan Najib, bahwa Cuaca di Tembagapura berangsurpulih dengan terjadinya hujan di siang hingga malam  selama seminggu sebelum ekpedisi, Kondisi ini berpengaruh terhadap pembentukan salju baru.  Hal ini terbukti saat tim melihat adanya ketebalan laju baru setebal 6-7 cm. Siklus pembentukan dan pencairan salju di Pegunungan Soedirman ini yang perlu diketahui lebih lanjut

           


Selasa, 20 Oktober 2015

BMKG MEMBERANGKATKAN 6 PENELITI KE KUTUB SELATAN DAN JAYAWIJAYA

Akhir-akhir ini wilayah kita sering merasakan suhu yang ekstrim kadang merasakan panas dan kadang kita pun merasakan suhu yang drop. Suhu panaspun perah dirasakan di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk wilayah Ibukota yang pernah diterjang suhu yang tinggi, terlebih saat musim kemarau. Tak hanya itu, pergeseran musim pun juga terjadi. Musim seolah-olah sudah tidak menentu. Kondisi ini disebabkan oleh adanya peningkatan emisi karbon  dari aktivitas kita sebagai manusia. 
Bumi yang kita pinjak sudah tidak ramah dengan kita. Kondisi inilah yang seharusnya dijadikan cerminan dari apa yang telah kita berbuat terhadap alam kita.Kearifan kita terhadap alam sudah tidak ada lagi nilainya. Manusia menjadikan alam sebagai objek keserakahan manusia.
Puncak gunung es puncak Jayawijaya akan menjadi sebuah cerita lama,  sudah tidak ada lagi salju abadi. Kondisi ini terbukti dari kesaksian seorang pendaki gunung `seperti yang dikatakan Irawan, salah satu pendaki dari Tim 7 Summit Expedition pada 2010 sampai 2012 lalu yang dikutip pada laman merdeka.
Menurut kesaksiannya, Irwan menuturkan bahwa dirinya yang pernah mendaki Puncak Cartenz. Keprihatinan itu muncul tatkala pada pendakian 2008 dia melihat salju abadi telah hilang sepanjang 200 meter dari lidah gletser di Puncak Cartensz bagian timur. "Sudah bergeser 200 meter dari lidah gletser,seperti yang dikutip pada lama Merdeka.
Salah satu pendaki, Dwi yang turut pernah mendaki puncak Cartenz yang saat itu mendaki bersama Kepala Bdang Iklim dan Kualitas Udara, Dodo Gunawan mengutarakan bahwa ketebalan es di Puncak Cartenz telah mengalami penipisan.
Penipisan balutan es yang menyelimuti puncak gunung tersebut membuktikan bahwa bumi kita kian lama semakin rusak dan panas. . Mungkin kedepannya sudah tidak ada julukan lagi es abadi.
Suhu semakin lama semakin panas, kondisi ini merupakan akibat dari ulah manusia  yang sudah tak lagi ramah dengan lingkungan. Mau dan relakah kita berdiam diri membiarkan alam kita menjadi rusak?

BMKG Melepas 4 Peneliti Ke Kutub Selatan & Puncak Jaya Papua

            Kepala BMKG, Dr. Andi Eka Sakya, M. Eng melepas 4 peneliti untuk melakukan ekspedisi ke Kutub Selatan  dan puncak Jayawijaya. Pada ekspedisi ke Kutub Selatan untuk memahami pengaruh laut terhadap iklim dan cuaca, sementara ekspedisi ke Puncak Jayawijaya untuk memahami dampak pemanasan global terutama di wilayah torpis (Khatulistiwa).
            Enam peneliti yang melakukan  kedua ekpedisi tersebut adalah: Wido Hanggoro dan Kadarsah yang akan melakuan ekpedis ke Stasiun Meteorologi Davis di Kutub Selatan bersama dengan Tim Ekspedisi Bureai of Meteorology (BoM)-Australian Antarctc Division (AAD). Empat nama lagi yang melakukan ekpedisi ke Puncak Jayawijaya adalah Dyah Lukita Sari, Ferdikka A. Harapak, Najib Habibie, dan Donny Kristianto.
Kepala BMKG mengutarakan bahwa kedua ekspedisi tersebut  dapat dijadikan masukan yang berharga bagi rangkaian penelitian tahun 2017-2019 yang merupakan Tahun Benua Maritim (Year of Maritime Continent-YMC) dan Year of Polar Initiative di Antartika. Masukan tersebut merupakan batu-tapak pemahaman hubungan tekoneksi klim antara wilayah tropis dengan antartika.
            Kegiatan ekspedisi ini pun mendukung program Joko Widodo  di dunia kemaritiman karena mengingat Indonesia merupakan wilayah lautan lebih dari 70%, dari situasi inilah pemerintah mentikberatkan pada program kemaritiman .
            Kita paham bahwa Indonesia merupakan wilayah yang unik, mengapa?Ya, karena Indonesia dikelilingi lautan dan dihiasi teluk dan semenanjung. Tak hanya itu, Indonesia pun memiliki gunung dan pergunungan yang berjejer. Kondisi inilah yang membuat wilayah Indonesia menjadi wilayah pertemuan angin.
            Wilayah Indonesia sering didominasi oleh Sirkulasi monsoon dingin Asia (Oktober-Maret) dan Sirkulasi monsoon panas Australia (April-September). Kedua sirklusi tersebut sangat berpengaruh pada faktor iklim di Indonesia.
            Posisi strategis geografi Indonesia menjadi kunci pemahaman dinamika iklim dan geografi Indonesia menjadi kunci pemahaman dinamika iklim dan perubahannya.  Langkah ini menjadi bagian dari BMKG untuk melakukan penelitian sebagai upaya pelayanan meteorologi, klimatologi, dan geofisika serta peningkatan SDM Indonesia.











Jumat, 09 Oktober 2015

Kopi Arabica, Robusta, Luwak Aceh Sensasi Berbeda



Jika kita mengatakan sebuah kata Kopi, timbul suatu imajinasi kenikmatan citra rasa dan aroma di benak kita. Minuman ini hampir disukai di berbagai kalangan usia, gender, dan profesi. Saat ini, banyak beberapa warkop (warung kopi), kedai kopi, dan café yang menjajakan aneka dan jenis kopi. Tak sedikit masyarakat yang nongkorong sambil menikmati kopi. Mereka rela membuang waktu atau bahkan uang mereka hanya untuk dapat meneguk kenikmatan rasa kopi.

Kita sebagai warga negara Indonesia patut bersyukur karena kita berada di tanah yang kaya akan hasil alamnya. Hasil alam itu kita dapatkan dari lautan yang luas, perut bumi yang kaya akan sumber daya mineral, pertanian yang luas dan tak lupa kita juga terdapat dataran tinggi yang cocok untuk perkebunan. 

Salah satu dataran tinggi di Indonesia yang dijadikan perkebunan adalah dataran tinggi “Tanah Gayo” Aceh Tenggara dan Gayo Lues. Bagi penggemar kopi sudah dapat menebak apa hasil perkebunan dari Tanah Gayo.  Ya, Kopi Arabika (Kopi Gayo) dan Kopi Robusta (Kopi Ulee Kareeng)  merupakan dua jenis Kopi Gayo.

Aceh merupakan salah satu wilayah penyumbang pundi-pundi devisa negara, Tak jarang petani –petani kopi di Aceh dapat mengjasilkan biji-biji kopi yang diekspor ke luar negeri.

Tak heran jika kita mengunjungi kota ini, banyak kedai kopi berjejer menjajakan kopi. Tradisi minum kopi ini telah berkembang turun temurun seiring perkembangan Aceh sebagai salah satu daerah produsen kopi kelas dunia. Sejak era kolonial Belanda hingga sekarang, setidaknya ada dua daerah sentra produksi kopi di Aceh, yaitu Ulee Kareng dan Gayo. Kopi Ulee Kareng yang termasuk jenis kopi Robusta dihasilkan dari Kecamatan Ulee Kareng.


Kopi Gayo yang termasuk jenis kopi Arabika  berhasil mengangkat nama Aceh di mata dunia, kopi ini termasuk kelas kopi premium. Kedua jenis kopi inilah yang mengharumkan nama Aceh sebagai salah satu produsen kopi terbaik di Tanah Air yang merajai 40% pasar dalam negeri.

Di kedai-kedai kopi ini, umumnya kopi ditawarkan dalam tiga variasi penyajian, yaitu kopi hitam, kopi susu dan sanger. Kopi hitam dan kopi susu mungkin sudah sering kita temui di daerah-daerah lain di Indonesia, tapi Sanger adalah racikan yang khas dan orisinil dari Aceh.

Kopi Arabika vs Kopi Robusta

Untuk kopi jenis Arabika umumnya di dibudidayakan di wilayah dataran tinggi “Tana Gayo”. Aceh Tenggara, dan Gayo Lues. Sementara di Kabupaten Pidie (terutama wilayah Tanges dan Geumpang) dan Aceh barat lebih dominan dikembangkan jenis kopi Robusta.

Citra rasa yang terdapat di kopi-kopi ini berbeda, kopi arabika memiliki memiliki rasa yang agak asam dan tidak pahit terasa pahit serta  memiliki aroma yang khas serta dan harum . Bahkan ada juga yang berpendapat bahwa rasa kopi Gayo melebihi cita rasa kopi Blue Mountain.

Sementara, pada Kopi Robusta memiliki kadar kafein yang lebih tinggi daripada Arabika dan memiliki citra rasa yang lebih kuat. Kopi ini cocok di bagi penikmat kopi yang suka dengan rasa kopi yang lebih pekat dan memberikan sensasi kopi yang cenderung kuat.
Kopi robusta sendiri sekarang sudah jarang di budidayakan di aceh karena permintaan pasar pada kopi robusta rendah dan lebih besar pada kopi Arabica, seperti yang diutarakan Iman, Petani Aceh Tengah.

Jika dilihat dari strukturnya, kopi Arabika agak besar dan berwarna hijau gelap, daunnya berbentuk oval, tinggi pohon mencapai tujuh meter. Namun di perkebunan kopi, tinggi pohon ini dijaga agar berkisar 2-3 meter. Tujuannya agar mudah saat di panen. Pohon Kopi Arabika mulai memproduksi buah pertamanya dalam tiga tahun. Lazimnya dahan tumbuh dari batang dengan panjang sekitar 15 cm. Dedaunan yang diatas lebih muda warnanya karena sinar matahari sedangkan dibawahnya lebih gelap. Tiap batang menampung 10-15 rangkaian bunga kecil yang akan menjadi buah kopi.

Di daerah tersebut kopi ditanam dengan cara organik tanpa bahan kimia sehingga kopi ini juga dikenal sebagai kopi hijau (ramah lingkungan).

Kopi Luwak Aceh, Tak Kalah Nikmat
Selain Kopi Arabika dan robusta, ada kopi luwak yang tak kalah nikmat. Kopi luwak sudah sering terdengar di telinga penikmat kopi. Saat ini, sudah banyak merek produk kopi luwak yang bermunculan di pasaran. Kopi ini memiliki citra rasa yang istemewa.
Di aceh sendiri , kopi luwak telah berkembang, seperti yang diutarakan Iman, petani Kopi di Aceh Tengah. Kopi luwak di Aceh memiiki kelebihan dibandingan kopi-kopi luwak lainnya karena dihasilkan dari luwak-luwak liar yang memakan kopi di kebun secara bebas jadi mereka dapat memakan biji-biji kopi yang telah benar-benar matang sempurna. Luwak ini berbeda dengan luwak kandangan yang dapat diproduksi secara berkala.

Sebelum menghasilkan biji kopi luwak, luwak memakan biji kopi yang kemudian terjadi proses fermentasi dalam perut luwak dan kemudian luwak membuang kotoran, selanjuntnya dikumpulkan oleh orang leles yaitu orang yang mengais sisa biji kopi yang telah dimakan tikus maupun luwak.


Produksi kopi-kopi di Aceh ini telah berhasil diekspor ke berbagai negara, yaitu Amerika, Eropa, dan Asia. Kita patut bangga karena dapat menghasilkan produk alam dalam negeri yang tak kalah hebat dengan produk luar negeri. (rn)




Selasa, 08 Januari 2013

DIA - Sammy Simorangkir - Official Music Video Full HD 1080p

Sehari Car Free Day Mengurangi Polusi Udara Jakarta


Jakarta, kota metropolitan yang dapat disebut sebgai kota penghasil emisi gas karbon terbesar diantara  kota-kota lain di Indonesia dapat menyurap dirinya menjadi kota yang dapat mengurangi emisi karbon selama satu hari.  Car free day sebagai salah satu program pengurangan emisi karbon dan ajang hiburan sehat murah bagi Warga. Berbondong-bondong warga Jakarta melakukan akitivitas senam, lari, dan bersepeda bersama keluarga dan kerabat dekat mereka. 

Jakarta yang terkenal kota padat dan dapat dikatakan sebagai kota penyumbang emisi karbon yang cukup tinggi dibandingkan kota lain di Indonesia, dapat membantu dalam pengurangan emisi karbon.  Masyarakat mungkin bertanya-tanya dengan cara Jakarta berperan mengurangi emisi karbon?

Upaya pengurangan emisi karbon salah satunya dilakukan dengan program car free day yang dilakukan pada setiap hari minggu disektar monas hingga bunderan senayan dari pukul 06.00-12.00. Tentunya hal ini, sangat dimanfaatkan warga Jakarta sekitarnya untuk lari pagi atau jalan santai, dan bersepeda . 

Kegiatan ini dijadikan ajang hiburan sehat “murah”bersama keluarga atau kerabat dekat. Banyak keluarga Jakarta dan sekitarnya memadati kawasan ini, mereka dapat melepaskan kepenakan dari rutinitas kegiatan yang menyita waktu mereka untuk “menyegarkan pikiran”  dan menghilangkan kebisingan dari suara kendaraan. 

Kita tahu bahwa hampir tiap hari di kawasan Jakarta macet dan penuh kendaraan bermotor, hal ini membuat warga Jakarta merasa penat dan merindukan udara segar, seperti yang diutarakan oleh seorang warga saat kegiatan car free day. “Maka, dengan adanya kegiatan ini dapat memberikan udara segar dan bersih bagi warga Jakarta,”lanjut warga tersebut. 

“Program ini sangat membantu sekali dalam pengurangan polusi udara di Jakarta,”kata seorang warga. 

Kegiatan ini tidak hanya dimanfaatkan oleh warga Jakarta tetapi para pedagang atau penjual memanfaatkan kesempatan ini sebagai peluang untuk menambah pemasukan mereka. Tak heran, jika di kawasan ini terdapat banyak para pendagang yang menjual berbagai macam makanan dan minuman kepada para warga dengan harga yang mudah dijangkau masyarakat. 

Selain itu juga terdapat adanya program senam bersama yang diikuti oleh seluruh warga Jakarta di sekitar area monas, Bunderan HI, dan Senayan. 

Tak sedikit dari mereka yang menyempatkan untuk mencicipi jajanan di pinggir jalan sambil menikmati udara segar di kota metropolitan ini.Tawa lepas mereka keluar dari raut wajah mereka seakan-akan beban selama 6 hari dapat terlepaskan.

Salah satu tindakan dalam pengurangan polusi udara tidak mengeluarkan biaya yang tinggi. Bahkan, hampir tidak mengeluarkan biaya. Apa yang dapat kita lakukan dengan lingkungan kita saat ini?  Pernahkah kita terbayangkan kesehatan kita menjadi taruhannya akan buruknya ancaman lingkungan? (ririn)