Senin, 05 Februari 2018

Media Online, Wajah Perubahan Peradaban

Tanpa kita sadari, sekarang kita sedang berada di budaya instan , tanpa batas , ruang, dan waktu. Berbeda dengan dulu, masyarakat masih mengalami budaya tradisional, kita dibatasi ruang dan waktu. Masyarakat masih menggunakan cara konvensional dalam melakukan aktivitas mereka, seperti melakukan transaksi, kegiatan usaha mereka, dan berbagai aktivitas lainnya. Misalnya, kita selalu mendatangi toko atau supermarket untuk membeli barang atau sesuatu yang kita inginkan. Tidak hanya itu, ketika kita ingin berpergian atau mencari angkutan umum, seperti taksi, kita pasti keluar rumah untuk menstop taksi . Bagi mereka yang bekerja di perkantoran, mereka masih melakukan door to door untuk mengirimkan berkas antar unit atau bahkan instansi. Dari tahun ke tahun, budaya kita telah beralih ke online, sebagian masyarakat telah beralih ke online dibarengi dengan kaum anak muda. Saat ini kita pun dengan dibarengi para pemuda kita pun dihadapkan dengan generasi millennial, yaitu yang biasa disebut generai Y adalah sekelompok orang yang lahir setelah generasi X, yaitu pada tahun 1980-2000 an. Mereka yang lahir di era tersebut sangat suka berlama-lama di sosial media atau dunia digital, mereka lebih suka dengan hal kekikinian. Generasi millennial merupakan generasi zaman sekarang, mereka sangat suka berkutat di sosial media.

Generasi Millennial adalah genersi zaman sekarang, mereka sangat suka berkutat di social media. Maka jangan heran jika media sosial dipenuhi anak-anak muda yang eksis. Berdasarkan data bahwa generasi millennial mencapai 80 juta, dan 20 juta generasi Z atau sekitar 100 juta penduduk Indonesia, yaitu 40 % penduduk Indonesia, seperti yang dikatakan Prof. Renald Kasali (Rumah Perubahan). Data ini menunjukkan bukan minoritas lagi, melainkan mayoritas, masyarakat saat ini generasi millennial. Kondisi ini menunjukkan bahwa Masyarakat zaman sekarang, terlebih para pemuda sudah snagat cerdas dalam memanfaatkan perkembangan teknologi. Tidak bisa kita pungkiri, bahwa media online yang sedang menjamur di tengah-tengah masayarakat saat ini, menadakan bahwa berbagai media online ini memberikan solusi dari kemacetan dengan memberikan kecepatan, solusi dari kelangkaan informasi dengan ketersediaan informasi. Bahkan, memberikan solosi bagi para pengusaha atau para petani yang akan menjual produk mereka.

Sebelumnya, petani mengalami kerugian, saat mereka ‘diperas’ dengan tengkulak untuk menjual produk pertanian mereka. Tetapi saat ini dengan adanya budaya ini dapat memangkas mata rantai dan mengurangi kerugian bagi pengusaha dan para petani. Mereka bisa menjual langsung ke konsumen, tanpa melalui perantara. Kita dihadapkan fenomena-fenomena yang ada di masyarakat, seperti aplikasi Angkutan umum online, seperti Go-Jek, Go-Food, Go- Car, Uber, Grab Car, dan Grab-bike. Aplikasi ini memudahkan publik untuk mobilisasi melakukan aktivitas mereka, karena menurut sebagian mereka, aplikasi ini lebih praktis dan menawarkan harga yang lebih murah. Kondisi ini mendorong angkutan taksi blue-bird bekerja sama dengan Go-Jek dengan menghadirkan sebuah fitur baru di aplikasi Go-Jek, yakni Go-BlueBird.

Fitur ini hadir khusus bagi pengguna yang ingin memesan taksi Blue Bird. Tidak hanya dari sektor transportasi, tetapi di sektor bisnis pun, banyak bermunculan aplikasi, seperti tarveloka, Trivago, pegipegi, lazada, dan tokopedia. Aplikasi ini memudahkan masyarakat untuk memesan atau mendaptkan produk yang mereka butuhkan dengan cara memesan tanpa mereka mendatangi ke lokasi. Mereka tidak membuang waktu dan tenaga untuk mendapatkan produk mereka. Tidak hanya itu, sekarang banyak para pemuda sudah dapat mencari uang melalui media online, seperti youtube dan instagram. Banyak dari mereka dengan kreativitas, gaya mereka, mengupload ke media Youtube dan Instagram. Bahkan, tidak jarang dari mereka yang telah di endorse dari industri iklan. Media online pun, menjadi ajang untuk memasarkan produk-produk mereka ke publik, seperti ajang media bisnis mereka. Dari sinilah, mereka dengan mudahnya memperkenalkan merk produk mereka ke publik tanpa door to door.

 Bahkan, saat ini , telah ada platform online pendidikan dengan nama IndonesiaX yang menawarkan kursus-kursus online (Massive Open Online Courses) dari universitas, institusi dan praktisi di berbagai bidang untuk mencerdaskan bangsa. IndonesiaX adalah suatu inisiatif yang terfokus pada pengembangan edukasi dan pelatihan online berkualitas tinggi di Indonesia. Platform online pendidikan ini didgagas oleh Lucyanna Pandjaitan. Platform online pendidikan ini, sangat memudahkan masyarakat umum untuk “belajar”online tanpa jarak dan dapat mengakses informasi tanpa dibatasi waktu.

 Lantas, Bagaimana Hadapi Realita Dunia Online? 
Mau tidak mau, kita tidak lepas dari fenomena ini, dan yang menjadi pertanyaan mengapa sekarang ini masih banyak yang pro dan kontrak terhadap fenomena-fenomena “dunia” online. Seperti yang kita ketahui, terkadang masih terjadi pertengkaran antara kendaraan online dengan kendaraan konvensional. Mereka takut, pendapatan mereka berkurang karena bersaing dengan kendaraan online. Sekarang kita pun dihadapkan realita, bahwa ada beberapa industri retail Indonesia memang sedang menurun sehingga berpengaruh terhadap penjualan produk. Terkadang banyak perusahaan atau industri yang fokus dengan bagaimana meraih keuntungan, tetapi mereka lupa dengan strategi baru untuk mempertahankan keberadaan perusahaan atau industri mereka di tengah-tengah fenomena dunia online., seperti contoh selama ini, mereka masih menggunakan bisnis mereka yang dulunya cara-cara berbisnis yang dulunya menekankan owning(kepemilikan) menjadi sharing (saling berbagi peran, kolaborasi resources). Meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2017 berada 5,05 %.

Berdasarkan data Bank Indonesia, Angka ini lebih stabil jika dibandingkan pertumbuhan ekonomi 2016 yang berada di posisi 5.02 %. Tetapi kesejahteraan kita, masih perlu ditingkatkan. Untuk menghadapi fenomena ini, pemerintah lebih tanggap dalam membaca fenomena yang terjadi, sehingga perlu dikaji kembali dan disesuaikan atau bahkan dapat dirubah, misalnya sekarang kita ada e-payment, hal ini dihadapkan dengan UU No. 7 yahun 2011 tentang mata uang atau jika kita menengok negara-negara lain sudah ada mobil tanpa pengemudi atau yang disebut smartcar. Kita tidak dapat menentang fenomena-fenomena ini, tetapi justru kita beradaptasi akan arus fenomena ini. Tetapi, media online atau instant yang sedang menjamur ini pun harus ada kode etik agar tidak menyimpang atau disalahgunakan. Bagi generasi millennial dan generasi Z, tentunya lebih bijak dalam menggunakan media online, seperti media sosial.Lantas Maukah kalian berdiam diri ditengah arusnya media sosial, hanya bisa mengamati perubahan-perubahan yang terjadi?

Senin, 29 Januari 2018

Fenomena Langka Si Cantik "Super Blue Blood Moon'Waspada 'Rob'

Jakarta, Senin-( 29/1). Tanggal 31 Januari 2018, akan terjadi Fenomena Super Blue Blood Moon atau Supermoon yang bertepatan dengan Gerhana Bulan Total, yaitu posisi matahari, bumi dan bulan berada pada satu garis lurus .

Kejadian Gerhana Bulan Total dapat diamati di sebagian besar wilayah Indonesia. Fenomena ini merupakan fenomena langka karena akan terulang lebih dari 100 tahun untuk di Amerika, sementara wilayah Indonesia 36 tahun (30-31 Desember 1982) sehingga masyarakat diharapkan melihat atau mengamati fenomena ini dan bukan dijadikan sesuatu yang menakutkan.

Masyarakat dapat melakukan pengamatan ini dapat dilihat secara ideal dari daerah perbatasan mulai dari perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur hingga daerah yang berada di sebelah Barat Sumatera, yaitu melintas di Samudera Hindia yang berada sebelah Barat Sumatera yang merupakan zona bulan terbit saat fase gerhana penumbra berlangsung. Selain itu, lokasi yang ideal untuk mengamati fenomena ini di Observatorium Boscha (Lembang), Pulau Seribu, Ancol, Taman Mini Indonesia Indah, Planetarium, Museum Fatahilah, Kampong Betawi, Satu babakan, serta Bukit Tinggi. Selain itu juga dilakukan pengamatan di 21 titik pengamatan hilal. Bahkan, di Makasaar dan Jam Gadang Bukit Tinggi pun terdapat event nonton bersama Super Blue Blood Moon.
 Meskipun fenomena ini merupakan fenomena langka, namun masyarakat harap mewaspadai tinggi pasang maksimun hingga mencapai 1,5 meter karena adanya gravitasi bulan dengan matahari. Fenomena ini pun juga dapat mengakibatkan surut minimum mencapai -100-110 cm yang terjadi pada 30 Januari-1 Februari 2018 di Pesisir: Sumatera Utara, Barat, Sumatera Barat, Selatan Lampung, Utara Jakarta, utara Jawa Tengah, Utara Jawa Timur, dan Kalimantan Barat. Air pasang maksimum ini akan berdampak pada terganggunya transportasi di sekitar pelabuhan dan pesisir, aktivitas petani garam dan perikanan darat, serta kegiatan bongkar muat di Pelabuhan. Keseluruhan proses gerhana dapat diamati di Samudra Pasifik serta bagian Timur Asia, Indonesia, Australia, dan bagian Barat Laut Amerika. Gerhana ini dapat diamati di bagian Barat Asia, Samudra Hindia, bagian Timur Afrika, dan bagian Timur Eropa pada saat Bulan terbit. Masyarakat dapat mengamati puncak Gerhana Bulan Total ini dapat pada Pukul 20:29,8 WIB; 21:29,8 WITA; dan 22:29,8 WIT.

 Cuaca Ekstrem, Masih Menyapa Wilayah Indonesia

Berdasarkan analisa BMKG, untuk potensi intensitasi sedang-lebat dalam hangka waktu seminggu kedepan (29 Januari-3 Februari) masih terjadi di beberapa wilayah Indonesia. Hal ini disebabkan padaPosisi saat ini, matahari berada di belahan bumi selatan akibatnya suhu udara di belahan bumi selatan lebih tinggi daripada belahan bumi utara.

Kondisi ini mengakibatkan adanya tekanan rendah di belahan bumi selatan sehingga terjadi aliran udara dingin dari belahan bumi utara tepatnya dari daratan Asia, termasuk samudera pasifik di sekitar Filipina atau bagian utara barat pasifik serta aliran udara dingin dari arah Samudera Hindia. Aliran udara tersebut semuanya menuju ke Belahan bumi selatan tepatnya kearah Australia, akibatnya beberapa wilayah Indonesia bagian Barat dan selatan terlewati aliran udara dingin asia samudera Hindia, dan Filipina. Kondisi inilah yang memicu terjadinya potensi hujan dan angin dengan kecepatan tinggi, terutama di Aceh, Jambi, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, Sulawesi selatan, Papua Barat, dan Papua.

 Dwikorita menambahkan Kondisi ini membawa uap air baik dari Samudera pasifik maupun hindia dari arah Barat sehingga mengakibatkan potensi hujan lebat disertai angin kencang dengan kecepatan 25 knot atau berkisar 36 km/ jm hingga 35 knot atau 70 km/ jam di daerah tersebut. Selain itu juga terjadi gelombang tinggi Laut Jawa, Samudera Hindia Selatan Pulau Jawa, Selat Sunda, Perairan Utara Jawa Tengah, Perairan Utara NTB hingga NTT, serta Pesisir Utara Pulau Jawa. Gelombang tinggi 4.0-6.0 meter (very Rough Sea) berpeluang terjadi di samudera Hindia Selatan Jawa hingga NTT, Perairan Selatan P. Sumba-P. Sawu-P. Rote-Laut Timor, dan Laut Arafuru.

Sementara tinggi gelombang 2.5-4.0 meter (Rough Sea) berpeluang terjadi di Perairan Enggano, Perairan Barat Lampung, Selat Sunda Bagian Selatan, Perairan Selatan Jawa, Perairan Kep. Sermata-Leti, Perairan Kep. Babar-Tanimbar. Secara umum, masyarakat dihimbau agar : - Waspada potensi genangan, banjir maupun longsor bagi yang tinggal di wilayah berpotensi hujan lebat terutama di daerah rawan banjir dan longsor. - Waspada terhadap kemungkinan hujan disertai angin yang dapat menyebabkan pohon maupun baliho tumbang/roboh. - Tidak berlindung di bawah pohon jika hujan disertai kilat/petir. - Waspada kenaikan tinggi gelombang, potensi rob dan dampaknya. - Waspada hujan lebat disertai angin kencang yang berbahaya bagi kapal berukuran kecil - Menunda kegiatan penangkapan ikan secara tradisional hingga gelombang tinggi mereda - Bagi masyarakat yang hendak memperoleh informasi terkini, BMKG senantiasa membuka layanan informasi cuaca 24 jam, yaitu melalui: call center 021-6546318; http://www.bmkg.go.id; follow twitter @infobmkg; aplikasi iOS dan android "Info BMKG"; atau dapat langsung menghubungi kantor BMKG terdekat.

Jumat, 17 November 2017

"Tsunami Ready", Dukung Poros Maritim Dunia

Masih teringat di benak kita, pada 2004, telah terjadi peristiwa tsunami yang telah merenggut lebih dari 230.000 orang, dan 1 juta orang kehilangan tempat tinggal dan telah meninggalkan rekam jejak kehancuran di sekitar pantai samudera hindia. Pasca kejadian tsunami menyadarkan pemerintahan Indonesia bahwa negara Indonesia merupakan daerah rawan gempa bumi dan tsunami karena dikelilingi 3 lempengan, Eurasia, Indo Australia dan Pasifik serta sesar aktif. Kondisi inilah yang menuntut perlu adanya sistem peringatan tsunami sehingga pada tahun 2008 silam diresmikan sistem Peringatan Dini Tsunami, (Indonesia Tsunami Early Warning System). Melalui sistem ini, diharapkan dapat memberikan informasi peringatan dini gempa dan tsunami 5 menit, setelah terjadi gempa bumi. Dalam perkembangan berikutnya, InaTEWS ditunjuk oleh Intergovernmental Oceanographic Commission (IOC)/Komisi Kelautan Antar Negara di UNESCO menjadi Tsunami Service Provider (TSP) bersama India dan Australia yang siap memberikan layanan peringatan dini tsunami kepada negara-negara di Samudra Hindia.

Seperti yang kita ketahui selama ini, bahwa tsunami sangat jarang terjadi. Tetapi pada kenyataannya, peristiwa tsunami memakan korban jiwa yang tidak sedikit. Selain tsunami di Aceh, di Indonesia pun telah terjadi tsunami, seperti di Pangandaran (2006_. Buru (2009), dan termasuk antara lain juga di Sendai (2011). Selain itu kejadian gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Jepang ( 2011) silam. Kondisi ini membuktikan bahwa secanggih teknologi yang kita punya, sangat diperlukan respon mayarakat mandiri yang tepat dan prosedur evakuasi yang terarah sehingga perlu dibutuhkan peta, dan prosedur evakuasi berdasarkan kondisi geografis seempat.

Untuk itu pada tahun ini, BMKG menjadi tuan rumah pelatihan pembuatan peta, rencana, dan prosedur, evakuasi tsunami yang dilakukan dari tanggal 13 s.d. 23 November 2017 di Region Training Centre di Citeko Bogor. Kegiatan ini pertama kalinya diadakan di dunia, dengan konsep tsunami ready program yang diterapkan pada tingkat kawasan, yaitu Samudera Hindia yang merupakan bagian dari kerjasama antara BMKG dengan IOC (Intergovernmental Ocean Commission) di UNESCO yang diikuti oleh 21 peserta dari 6 negara anggota Kelompok Koordinasi Antar Pemerintah dalam Sistem Peringatan Dini dan Mitigasi Tsunami (Intergovernmental Coordination Group for the Indian Ocean Tsunami Warning and Mitigation System – ICG IOTWMS), yaitu India, Indonesia, Malaysia, Maladewa, Oman, Seychelles, dan Yaman dan melibatkan 11 narasumber, termasuk diantaranya dari NOAA (National Ocean and Atmospheric Administration), USA.

Salah satu implementasi dari tsunami ready program di Kawasan Samudera Hindia adalah pelatihan pembuatan peta, rencana evakuasi tsunami, dan prosedur penyelamatan atau Tsunami Evacuation Map Plan And Procedure (TEMPP) yang merupakan kerjasama BMKG-IOTIC/Pusat Informasi Tsunami Samudera Hindia. Pelatihan ini sangat penting dilakukan untuk meningkatkan kemampuan SDM dan negara-negara untuk menciptakan infranstruksi dalam pembuatan permodelan redaman tsunami, pemetaan rendaman tsunami untuk evakuasi, pemetaan evakuasi, perencanaan prosedur, dan informasi tsunami publik serta rencana tanggap darurat dan prosedur operasional dan perencanaan pelatihan.

Kegiatan ini diharapkan tidak hanya terhenti sampai sini, tetapi perlu dilakukan secara berkelanjutan karena perlu adanya regenerasi dalam penguatan kapasitas/ kemampuan dalam menghadapi resiko dampak tsunami karena diakui tidak mudah membangun masyarakat untuk paham dan mudah menerima informasi dari produk yang kita hasilkan, sperti petaan rendaman tsunami untuk evakuasi, dan informasi tsunami publik sebagai bentuk rencana tanggap darurat.

  BMKG Dukung Poros Maritim, Melalui Peringatan Dini

 Seperti yang diutarakan Kepala BMKG, Prof. Dwikorita Karnawati, M. Sc, Ph. D bahwa kita, termasuk negara-negara di kawasan Samudera Hindia, merupakan daerah yang rawan terjadinya tsunami, Untuk itu perlu dilakukan langkah-langkah untuk memnimalisir resiko bencana dari tsunami. BMKG mengambil peran sangat besar untuk mendukung dan “menyelamatkan” poros maritime dunia, melalui pembangunan sistem peringatan Dini Tsunami dan dipercaya sebagai RTSP (Regional Tsunami service Provider).

Tetapi, hal ini tidak hanya sebatas itu, tetapi pun diperlukan adanya kesadaran masyarakat untuk melakukan evakuasi. Untuk meningkatkan kesedaran masyarakat akan dampak resiko tsunami, telah dilakukan berbagai kegiatan sebagai Tsunami Ready , seperti Tsunami drill, dan IOwave yang akan dilaksanakan pada 2018. Pengurangan rasiko dampak tsunami sangat membutuhkan berbagai peran tidak hanya di tingkat hulu tapi juga di tingkat hilir. Tentunya untuk mencapai ke hilir perlu dibutuhkan peran media massa sebagai mata rantai bencana. Meida masas diharapkan beberperan tidak pada saat pasca bencana tsunami, tetapi sebelum dan sesaat kejadian tsunami.

Minggu, 05 November 2017

Mengulik Badai, Puting beliung, dan Angin Kencang. Serupa Tapi Tak Sama

Tidak sedikit dari masyarakat sering mengatkan “Indonesia sering terjadi badai? saat mereka melihat atau mengalami angin kencang di daerah tempat mereka. Lantas apakah benar badai sama dengan angin kencang atau apakah sama dengan puting beliung. Coba kita tengok sejenak apa itu badai, angin kencang, atau puting beliung Badai, sejenis siklon tropis Jika ditinjau meteorologi, badai merupakan siklon tropis yang merupakan kondisi cuaca ekstrim, dimulai dari badai salju hingga pasir dan debu.

Siklon tropis merupakan badai yang berkekuatan besar. Siklon Radius rata-rata siklon tropis mencapai 150 hingga 200 km. Siklon tropis terbentuk di atas lautan luas yang umumnya mempunyai suhu permukaan air laut hangat, lebih dari 26.5 °C. Angin kencang yang berputar di dekat pusatnya mempunyai kecepatan angin lebih dari 63 km/jam (http://meteo.bmkg.go.id/siklon/learn/01/id) 

Secara teknis, siklon tropis didefinisikan sebagai sistem tekanan rendah non-frontal yang berskala sinoptik yang tumbuh di atas perairan hangat dengan wilayah perawanan konvektif dan kecepatan angin maksimum setidaknya mencapai 34 knot pada lebih dari setengah wilayah yang melingkari pusatnya, serta bertahan setidaknya enam jam. Kadangkala di pusat siklon tropis terbentuk suatu wilayah dengan kecepatan angin relatif rendah dan tanpa awan yang disebut dengan mata siklon dengan diameter mulai dari 10 hingga 100 km. Mata siklon ini dikelilingi dengan dinding mata, yaitu wilayah berbentuk cincin yang dapat mencapai ketebalan 16 km, yang merupakan wilayah dimana terdapat kecepatan angin tertinggi dan curah hujan terbesar.

Masa hidup suatu siklon tropis rata-rata berkisar antara 3 hingga 18 hari. Karena energi siklon tropis didapat dari lautan hangat, maka siklon tropis akan melemah atau punah ketika bergerak dan memasuki wilayah perairan yang dingin atau memasuki daratan. Siklon tropis dikenal dengan berbagai istilah di muka bumi, yaitu "badai tropis" atau "typhoon" atau "topan" jika terbentuk di Samudra Pasifik Barat, "siklon" atau "cyclone" jika terbentuk di sekitar India atau Australia, dan "hu rricane" jika terbentuk di Samudra Atlantik.

Indonesia bisa diserang siklon tropis? Lantas yang sering menjadi pertanyaan apakah dengan ini Indonesia akan terbebas dari ancaman siklon tropis? Indonesia khususnya wilayah yang dekat dengan garis khatulistiwa memang tidak mungkin ditumbuhi siklon tropis namun kemunculan siklon tropis itu di dekat wilayah perairan Indonesia akan sangat memengaruhi kondisi atmosfer di atasnya. Siklon tropis kerap membuat pola gerakan angin berubah dan membawa kelembapan udara yang tinggi di atmosfer Indonesia. Akhirnya awan hujan disertai angin kencang akan mudah tumbuh. Kondisi ini membuat potensi terjadinya bencana seperti banjir, pohon tumbang, tanah longsor dan puting beliung semakin tinggi. Masyarakat tidak perlu khawatir dan termakan isu berita hoax bahwa badai siklon akan masuk ke Indonesia dan memporak-porandakan wialayah Indonesia seperti yang terjadi di Jepan, Amerika, Australia, dan Filipina.

Siklon tropis tidak adakn dapat menyerang wilayah Indonesia karena di wilayah Indonesia telah dibentengi dengan sebuah garis khatulistiwa. Disini, wilayah Indonesia akan terkena dampak siklon tropis yang mempengaruhi kondisi cuaca di Indonesia, seperti angin kencang, gelomang tinggi, hujan lebat disertai petir. Tetapi, masyarakat tidak perlu khawatir akan dampak ini karena BMKG diberikan amanat untuk memantau “pergerakkan”siklon tropis dan memberikan informasi peringatan dini cuaca. Puting Beliung & Angin Kencang, Sejenis Tapi Tak Sama Fenomena Putting Beliung / Tornado skala kecil merupakan fenomena cuaca alamiah yg biasa terjadi. Jika kejadian putting beliung tsb di laut disebut "waterspoot" . Kejadian hujan lebat disertai kilat/petir dan angin kencang/putting beliung berdurasi singkat lebih banyak terjadi pada masa transisi/pancaroba musim baik dari musim kemarau ke musim hujan atau sebaliknya.

 Putting Beliung merupakan angin kencang yang datang secara tiba – tiba, mempunyai pusat dan bergerak melingkar seperti spiral hingga menyentuh permukaan bumi serta punah dalam waktu singkat (> 10 menit). Puting beliung sendiri memiliki teman-teman di berbagai negara, seperti: angin leysus (Indonesia), Tornado (Amerika), Twister (Eropa), Willy (Australia). Sebagai langkah kesiapsiagaan untuk menghadapi cuaca ekstrim, yaitu angin puting beliung, kita bisa melihat gejala-gejala yanga ada, seperti: a. Satu hari sebelumnya udara pada malam hari hingga pagi hari terasa panas dan gerah. b. Udara terasa panas dan gerah diakibatkan adanya radiasi matahari yang cukup kuat ditunjukkan oleh nilai perbedaan suhu udara antara pukul 10.00 dan 07.00 LT (> 4.5°C) disertai dengan kelembaban yang cukup tinggi ditunjukkan oleh nilai kelembaban udara di lapisan 700 mb (> 65%) c. Mulai pukul 10.00 pagi terlihat tumbuh awan Cumulus (awan putih berlapis – lapis), diantara awan tersebut ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu – abu menjulang tinggi seperti bunga kol. d. Selanjutnya awan tersebut akan cepat berubah warna menjadi abu – abu / hitam yang dikenal dengan awan Cb (Cumulonimbus).

Biasanya hujan yang pertama kali turun adalah hujan deras tiba – tiba, apabila hujannya gerimis maka kejadian angin kencang jauh dari tempat kita. f. Jika 1 – 3 hari berturut – turut tidak ada hujan pada musim transisi/pancaroba/penghujan, maka ada indikasi potensi hujan lebat yang pertama kali turun diikuti angin kencang baik yang masuk dalam kategori puting beliung maupun yang tidak. Sementara, angin puting beliung/ angin kencang berdurasi singkat memiliki sifat, yaitu: terjadi lokal dengan luasan 5-10 km, biasanya terjadi pada massa transisi (pancaroba) pada siang atau sore hari, dan terkadang menjelang malam hari, bergerak secara garis lurus, tidak dapat diprediksi secara spesifik (hanya bisa diprediksi 30 menit-1 jam) sebelum kejadian jika melihat atau merasakan tanda-tandanya dengan tingkat keakuratan <50 a="" angin="" awan="" bagunan="" baliho="" bangunan="" beban="" beliung="" berasa="" berlindung="" besar="" bukan="" cara="" cb="" cepat="" cumulonimbus="" dalam="" dampak="" dan="" dapat="" dari="" dengan="" di="" disarankan="" dll="" href="http://https://www.kompasiana.com/ririnbmkg/59f1498098182704a27387d2/mengulik-badai-dan-kawannya-serupa-tapi-tak-sama" kecil="" kedinding="" kembali="" kemungkinannya="" ketika="" kita="" kokoh="" konstruksi="" langkah-langkah="" massa="" maupun="" melakukan="" memperkuat="" menebang="" mengurangi="" menimbulkan="" merapatkan="" mobil.="" monsoon="" pada="" papan="" pengecekan="" pergerakan="" pohon="" puting="" rapuh="" reklame="" resiko="" rimbun="" saat="" sama.="" semua="" seperti="" serta="" tempat="" terjadi="" tersebut="" tetapi="" tidak="" tinggi="" transisi="" tubuh="" umumnya="" untuk="" yang="">

Kamis, 19 Oktober 2017

Babak Baru Adegan "Film" Jakarta Telah Dimulai

16 Oktober kemarin, merupakan hari yang bersejarah bagi warga ibu Kota.Pasangan Gubernur terpilih Anies Baswedan- Sandiaga Uno resmi dilantik oleh Presiden RI, Ir. Joko Widodo di Istana Negara. Pasangan ini akan memimpin kota Jakarta pada periode 2017-2022. Seperti yang teringat di benak warga Jakarta dan Indonesia bahwa  warga Jakarta khususnya dan warga Indonesia umumnya pernah menyaksikan rentetan adegan 'Film' Pilkada Jilid 1 dan bersambung jilid 2. 
Adegan film tersebut telah meninggalkan goresan cerita. Masyarakat Jakarta khususnya sedang menanti adegan baru dengan dengan lakon utama Anies-Sandiaga. Apakah adegan film ini akan diwarnai haru, rasa gembira, tawa, atau bahkan kekecewaan?. Tapi, kita semua warga Jakarta mengharapkan pimpinan Anies-Sandiaga dapat membawa masyarakat kearah pembaruan yang semakin maju bagi warga Jakarta.
Kemarin sore, pasangan Anies-Sandiaga telah mengucapkan ikrar untuk menjadi gubernur dan wakil gubernur bagi semua warga Jakarta, tanpa kecuali bagi mereka yang memilih atau tidak memilih. Saat seseorang mengucapkan janji, maka ia harus memenuhi segala kewajibannya untuk menempati janji atau ikrar yang telah diucapkan sebagai tanda konsekuensi akan apa yang telah diucapkan untuk direalisasikan dalam suatu tindakan.
Seperti yang dikatakan oleh Anies yang dikutip pada harian Media massa cetak Republika  (17 Oktober 2017) bahwa dirinya adalah gubernur bagi seluruh warga Jakarta. Dia pun sudah komit dengan janji kampanye. Ya, seharusnya seorang pemimpin harus menjadi sosok seperti yang dikatakan oeh Anies. Mereka harus dapat membawakan dirinya secara adil, dan tidak boleh setengah-tengah. Mereka harus berdiri di tengah-tengah tidak mempedulikan siapa yang mendukungnya atau tidak mendukungnya di Pilkada. Tetapi, mereka harus memiliki kemampuan untuk dapat menjalankan roda pemerintahan ditengah-tengah masyarakat yang heterogen.
Kita paham usai Pilkada jilid 2 lalu, Jakarta menunjukkan polarisasi di tingkat masyarakat yang sempat menghebat. Maka dari itu, pimpinan DKI Jakarta saat ini harus dapat merangkul semua pihak tanpa membuka cerita lama, tetapi mereka harus dapat membuka lembara-lembaran baru dengan jiwa yang tangguh dan kuat. Mereka harus dapat menjaga komitmen yang mereka ucapkan saat kampanye. Tidak mudah memegang amanah masayrakat untuk mewujudkan Jakarta yang lebih maju, damai, dan sejahtera.
Seperti yang kita ketahui, Jakarta yang merupakan "jantung" negara Indonesia menjadikan kota ini sebagai pusat bisnis dan metropolitan, sehingga diperlukan ruang mobilitas yang cepat, tentunya ini diperlukan infrastruktur jalanan, moda transportasi umum, serta sarana-prasarana umum yang memadai. Tidak hanya itu, masih banyak beberapa masyarakat yang belum memiliki lapangan kerja, tentunya ini menjadi fokus bagi Gubernur Jakarta untuk membuka lapangan kerja bagi mereka untuk berkarya.
Terkait banjir yang sering melanda kota Jakarta pun harus mendapatkan perhatian dari gubernur Jakarta untuk mengatasi masalah "klise" ini, mengingat jarang sekali kita temui ruang terbuka hijau di wilayah Jakarta. Banyak gedung pecakar langit yang menghabiskan luasan lahan hijau di kota Jakarta ini.
Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh pimpinan kota Jakarta, Anies-Sandiaga. Melihat masalah Jakarta yang terlalu kompleks, maka sangat dibutuhkan seseorang dan sekelompok orang yang berbaja kuat. Masyarakat mengharapkan Jakarta tak hanya tumbuh berkembang, tapi juga menjadikan kota ini memiliki nilai-nilai budaya yang beradab serta  nyaman dihuni sehingga masyarakat tidak takut dan khawatir untuk menginjakkan di DKI yang notabene Ibu Kota RI.  
Anies-sandiaga harus dapat menghilangkan ego mereka, suka-tidak suka mereka harus dapat meneruskan kiprah pimpinan Jakarta sebelumnya, Basuki-Djarot yang dinilai oleh sebagian masyarakat Jakarta yang telah mampu membawa wajah baru ibu kota. Mereka harus dapat menjadikan kota Jakarta menjadi lebih maju dan lebih baik daripada pimpinan sebelumnya, bukan justru mengalami kemunduran.
Harus diakui, banyak perubahan positif yang terjadi di Jakarta dalam lima tahun terakhir dan tidak sedikit dari masyarakat yang merasakan perubahan positif tersebut. Walaupun, menuai banyak kritik dan protes yang mewarnai masa pimpinan Ahok-Djarot.
Anies-Sandiaga Siap Beraksi
Hari ini, kepemimpinan Anies-Sandi telah dimulai, masyarakat Jakarta telah menguntai asa dan mimpi baru bagi kota Jakarta. Tentunya dalam kiprah mereka nanti, Anies- Sandi memiliki rencana dan strategi yang berbeda. Mereka memiliki pandangan masing-masing untuk menyulap kota Jakarta. Tidak ada salahanya jika mereka mengambil pelajaran-pelajaran yang positif dari kepemimpinan sebelumnya, seperti karakter, sikap, dan output yang dihasilkan, Diharapkan dari sinilah, pimpinan Anies-Sandiaga dapat menjadikan hal ini sebagai tolak ukur untuk strategi yang mereka ambil.
Masyarakat Jakarta menaruh harapan di pundak Anies-Sandiaga. Masyarakat Jakarta tidak hanya membutuhkan pimpinan yang dapat merealisasikan mimpi-mimpi masyarakat Jakarta, tapi mereka mengidamkan sosok kepempinan Anies- Sandiaga yang kuat, berkomitmen tinggi, tangguh, berkarakter, jujur, adil, dan tidak menjadikan kekuasaan atau kedudukan mereka sebagai simbol pencitraan mereka.
Bagi warga masyarakat, khususnya warga Jakarta yang terpenting saat ini adalah menguntai dan merajut harapan-harapan baru dari Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih Anies-Sandi.  Mereka telah tidak sabar menanti adegan baru "Film"kota Jakarta dengan lakon Anies-Sandiaga. Kita menaruh harapan besar kepada Anis-Sandi dalam melakukan pembaruan demi rumah kita, Kota Jakarta. Selamat bertugas Pak Anies- dan Bang Sandiaga.

Jumat, 15 September 2017

Literasi, Kunci Kecerdasan dan budaya Suatu Bangsa

Saat ini kita dihadapkan dengan realita sosial, yaitu adanya perubahan budaya dan sikap masyarakat.. Salah satunya, kita disuguhkan dengan budaya literasi yang masih minim di tengah masyarakat karena tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini masyarakat, khusunya di kalangan pelajar,  memiliki penurunan minat baca yang baik.

Berdasarkan data Hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) menyebut, budaya literasi masyarakat Indonesia pada 2012 terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti di dunia. Indonesia menempati urutan ke-64 dari 65 negara tersebut, seperti yang dilansir www.republika.com.

Sementara Vietnam justru menempati urutan ke-20 besar, sedangkan berdasarkan data statistik UNESCO 2012 menyebutkan indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, setiap 1.000 penduduk, hanya satu orang saja yang memiliki minat baca.

Pada penelitian yang sama, PISA juga menempatkan posisi membaca siswa Indonesia di urutan ke 57 dari 65 negara yang diteliti. "PISA menyebutkan, tak ada satu siswa pun di Indonesia yang meraih nilai literasi ditingkat kelima, hanya 0,4 persen siswa yang memiliki kemampuan literasi tingkat empat. Selebihnya di bawah tingkat tiga, bahkan di bawah tingkat satu.

  Kenapa Literasi Bisa Rendah?
Perkembangan teknologi dan informasi, membuat sebagian masyarakat telah mengalami “kelesuan”literasi. Seperti yang kita lihat pada realita masyarakat, para generasi millennial sudah menjadikan medsos sebagai “soulmatenya”sebagai imbas dari perkembangan teknologi dan informasi. Mereka sering memposting status, gambar, dan video.

Kondisi ini membuat mereka mengalami titik kelesuan dalam minat baca. Memang tidak salah dengan adanya perkembangan teknologi dan informasi. Justru melalui medsos dapat membantu kita dalam menyebarluaskan informasi secara cepat dan dapat menjangkau masyarakat luas, tetapi alangkah sempurnanya jika itu dibarengi oleh literatur untuk membuka cakrawala kita untuk dijadikan  sebagai data dukung untuk menyebarkan informasi.

Miris, jika mendengar jika ada oknum yang mempergunakan medsos secara tidak dapat dipertanggungjawab, justru menjadikan medsos sebagai bahan povokasi.

Kondisi sekarang  sangat berbeda jika dibandingkan pada generasi kelahiran 70 –an dan an-80 an, sebagian masyarakat, terutama tingkat pelajar dan mahasiswa selalu menyempatakan waktu mereka ke perpustakaan dan meminjam buku bacaan di tempat penyewaan bacaan.

Seperti contohnya, di Kota Yogyakarta yang dikenal sebagai kota pelajar. Di kotaini , terdapat ‘Shopping” (julukan masyarakat Jogja, tempat menjual belikan buku bekas dengan harga yang murah) yang berada di tengah kota Jogja, setiap harinya tempat itu sangat ramai dikunjungi. Tetapi saat ini, tempat tersebut tidak seramai tempo dulu.

Kondisi minat literasi yang tinggi pun terjadi di tingkat SD, SMP, dan SMA.  Pada saat itu, setiap guru kurikulum bahasa Indonesia dan satra Indonesia, tidak jarang mereka mendapatkan tugas untuk membaca novel, karya sastra, prosa, dan beberapa buku bacaan lainnya.

Tetapi apa yang terjadi realita saat ini? Tidak sedikit para pelajar. Bahkan usia dewasa yang miliki minat baca rendah. Hal ini menjadi bahan renungan bagi kita, terutama bagi orang tua, guru, dan para pendidik yang tidak memperkenalkan buku kepada mereka sejak usia dini dan memberikan pemahaman bahwa buku adalah “jendela dunia.”

Seperti yang diutarakan oleh Amran, SE.  Anggota Komisi X DPR RI bahwa slah satu faktor yang mempengaruhi minat baca kurang adalah faktor kebijakan juga sangat mempengaruhi, yaitu karena pejabat dan birokrat pendidikan tidak paham tentang literasi itu sendiri. Akibatnya, literasi tidak menjadi bagian dari kurikulum, termasuk dalam Kurikulum 2013.
                  
            Mengapa Budaya Baca Perlu?

Budaya membaca pun perlu harus mendapatkan perhatian khusus dari berbagai lapisan masyarakat, dari tingkat umur, dan profesi. Mengapa? Karena tidak jarang, kita masih sering menjumpai tidak sedikit pelajar dan mahasiswa yang jarang memanfaatkan perpustakaan secara optimal. Mereka lebih memilih ‘nogkrong” dengan gadget mereka yang selalu mereka bawa kemana-mana.

Sebuah negara yang besar tidak hanya didukung seberapa megah dan canggihnya gedung serta teknologi yang ada, tetapi seberapa cerdas dan budyanya masyarakat. Kecerdasan masyarakat dan berbudayanya masyarakat tidak lepas dari seberapa luas literasi kita.

Seperti yang kita pahami, melalui literasi, kita dapat mengemabngakan imajinasi untuk memcitakana daya kreasi dalam bentuk seni, budaya, dan teknologi. Betapa besar magnet literasi dalam kehidupan kita.

Tidak semua  orang-orang sukses, berasal keluarga berada, dari mana mereka menempuh pendidikan,  gelar mereka, dan seberapa tinggi jenjang pendidikan mereka tetapi mereka memiliki motivasi dan tidak segan untuk meluangkan waktu mereka untuk membaca buku sebagai sumber informasi mereka.

Seperti contohnya seorang pengusaha atau wirausahawan yang tidak memiliki tingkat pendidikan yang tinggi, mereka tidak segan mencari-cari sumber informasi melalui buku dan bermacam literasi  dengan membaca pengalaman-pengalaman atau kisah sukses para pengusaha.

Optimalkan Perpustakaan        
Seharusnya kita dapat memanfaatkan dan mengoptimalkan perpustakaan yang notabene sebagai wahana transformasi ilmu karena buku dan pendidikan membawa bangsa Indonesia sejajar dengan bangsa lain.

Sama halnya seperti yang dikatakan seorang Duta Baca Indonesia, Najwa Sihab, bahwa ukuran perpustakaan bukan hanya dari gedung yang megah, melainkan koleksi buku dan dedikasi seorang Pustakawan yang merawat dan mencintai buku karena literasi kunci keberdayaan suatu bangsa.

Sebuah renungan dan rasa perihatin kita bahwa selama ini pengelola perpustakaan dan profesi pustakawan mendapatkan stigma negatif . Bahkan, tidak jarang kita menjumpai pemberitaan di media massa bahwa tidak sedikit pengalaman seseorang yang dirasa rtidak berkompeten atau produktif di bidangnya atau berbuat kesalahan “dibuang” ke unit perpustakaan. Kondisi ini menciptakan persepsi kita jika perpustakaan menjadi tempat “buangan.”’

Peningkatan dan pembinaan  minat baca merupakan modal dasar untuk memperbaiki kondisi minat baca masyarakat saat ini. Sesuai dengan Wikipedia Perpustakaan dapat diartikan Perpustakaan kumpulan informasi yang bersifat ilmu pengetahuan, hiburan, rekreasi, dan ibadah yang merupakan kebutuhan hakiki manusia.

Oleh karena itu perpustakaan modern telah didefinisikan kembali sebagai tempat untuk mengakses informasi dalam format apa pun, apakah informasi itu disimpan dalam gedung perpustakaan tersebut ataupun tidak. Dalam perpustakaan modern ini selain kumpulan buku tercetak, sebagian buku dan koleksinya ada dalam  perpustakaan digital  (dalam bentuk data yang bisa diakses lewat jaringan komputer).

Kesadaran mayarakat terhadap literasi tentunya timbul dari dalam diri individu, bukan dari suatu paksaan. Hal inilah merupakan tantang dan fokus kita bersama bagaimana meningkatakan kesdaran masyarakat, tanpa kita bisa elakkan, bahwa kondisi ini butuh “perjuangan” dan proses panjang.

Realita akan kondisi ini, mendorong Presiden RI, Ir. Joko Widodo mengeluarkan Instruksi terkait           pengiriman buku gratis ke seluruh pelosok Indonesia seperti yang dijanjikan kepada para pegiat literasi beberapa waktu lalu. Masyarakat dapat mengirimkan buku secara gratis melalui PT Pos Indonesia pada satu hari setiap bulannya. 

Instruksi Pesiden ini dibuat pada 2 Mei saat Hari Pendidikan Nasional. Sikap dari Presiden kita ini menandakan bahwa Beliau sangat aware terhadap kelangsungan literasi. Karena sesuai dengan kenyataannya, banya pegiat literasi melaporkan belum meratanya pembagian buku di di daerah karena tingginya biaya pengiriman terutama ke pelosok-pelosok dan daerah terluar Indonesia, sperti yang dilansir https://www.cnnindonesia.com/.

Setiap tanggal 20 Mei, dilakukan pengiriman pengratisan buku dan selanjutnya dilakukan pada tanggal 17 tiap bulannya. Instruksi telah disampaikan Bapak Joko Widodo kepada PT Pos Indonesia melalui Kementerian BUMN.

Sikap Bapak Presiden ini, tentunya membawa angin segar bagi pegiat literasi untuk dapat memperkuat minat baca masyarakat terutama generasi muda.

Lantas apakah kita sudah meluangkan sedikit waktu untuk membaca? #salamliterasi

Jumat, 25 Agustus 2017

Dahsyat, Media Sosial Menyulap Menjadi Kawan Atau Musuh?


Dari waktu ke waktu, tanpa kita sadari, kita terhanyut pada dimensi waktu yang membawa kita kedalam lingkaran perkembangan teknologi dan informasi. Masyarakat dihadapkan dengan  dunia instan, berbeda dengan tempo lalu, kita hidup di dunia “tradisional.”Dulu, kita hanya mentah-mentah menerima informasi, tanpa kita bisa menembus ruang dan waktu informasi. Dunia instan yang saat ini kita hadapi, membuat kita berselancar di dunia “maya.” Mudahnya masyarakat memainkan peranan untuk menunjukkan sebuah eksistensi. Tidak jarang dari mereka yang tidak menggunakan hati naluri, mereka menebar isu yang menyesatkan. Maukah kita menggandaikan esksistensi kita dengan isu murahan?

Dunia maya yang saat ini sedang mengalir deras di tengah-tengah masyarakat, memicu “jejamuran” media sosial. Tanpa kita sadari, media sosial telah “meracuni” kita. Tidak sedikit dari kita yang menghabiskan waktu kita melalui media sosial.

Hampir setiap hari. Bahkan setiap detik dan menit, masyarakat mengupdate informasi baik berupa tulisan dan gambar di media sosial mereka.  Seakan-akan media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan kita tidak dapat dipisahkan.

Di era pemerintahan, media sosial pun dapat dijadikan sebagai startegi “marketing” yang dapat membentuk serta membangun reputasi. Tetapi kondisi ini akan berbanding terbalik,  jika muncul suatu hatters atau hoax yang dapat mempengaruhi suatu reputasi instansi atau individu yang bersangkutan.

Perkembangan media sosial menandakan bahwa, realitas perkembangan budaya masyarakat telah beralih dari konvesional ke  modern. Media sosial dianggap mampu mendistribusikan  informasi dan memblow up suatu isu sehingga dengan cepatnya isu bergulir ke tengah masyarakat.  

Media sosial pun dapat dijadikan sebagai kontrol sosial. Seperti yang ada di media sosial, akhir-akhir ini, kita diramaikan dengan beberapa viral terkait kunjungan Sekjen Partai Komunis Vietnam ke Indonesia. Kunjungan yang dijadwalkan   22, 23, dan 24 Agustus menuai beberapa opini publik yang telah berhasil memunculkan fitnah dan propaganda di berbagai media sosial dengan mencampuradukan kunjungan ini dengan masalah ideologi politik yang dianut Vietnam.

Kita pun dapat menggandeng media sosial untuk menggempur hoax dengan hitungan menit, bahkan detik serta memantau sejauh mana perkembangan isu atau hoax .

Media sosial pun dapat digunakan untuk membentuk pencitraan dengan dibuktikan dari data Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bahwa kementerian/lembaga telah melakukan viral program pemerintah, hal ini terlihat ketika pada event IORA, dari tercatat 150.8 Juta (7.3 juta Akun) hanya 46 Kementerian/ Lembaga yang memviralkan program ini , sementara ketika Tafisa, tercatat  27 kementerian/ lembaga dari.47,2 Juta.

Di balik itu semua, tidak sedikit dari masyarakat yang mengatakan ‘hati-hati menggunakan media sosial karena bisa jadi media sosial “harimau-mu.”Pernahkah terlintas di benak kita betapa dahsyatnya media sosial menggilir kita ke dunia yang “benar’ atau sebaliknya ke dunia yang “salah”?

Media Sosial, “Musuh’ atau ‘Kawan?’
Akhir-akhir ini, kita dihebohkan dengan berbagai informasi yang viral di beberapa media sosial yang memuat unsur provokasi, seperti kunjungan Sekjen Partai Komunis Vietnam ke Indonesia. Kunjungan ini menuai beberapa opini dari Netizen yang mengaitkan dengan paham ideologi yang telah berhasil menghasut publik terhadap pemerintahan kita. Beberapa awam berspekulasi bahwa langkah kita menerima kunjungan tersebut dapat melahirkan kembali laten komunis di negeri ini. 

Pernahkah terlintas di benak kita saat menerima informasi tersebut bahwa Indonesia menganut politik luar negeri bebas aktif? Politik bebas aktif yang memberikan arti bagi Indonesia  bahwa   bebas bergaul dengan negara mana saja, dan aktif menjaga perdamaian dunia.

Sebagai bagian dari ASEAN, tentunya dengan semangat perdamaian abadi yang tertuang UUD 45, Indonesia sudah selayaknya menerima kunjungan negara tetangga dengan baik dan tebuka.   Bahkan dengan Malaysia dan Singapura yang pernah berkonfrontasi dengan kita dimasa lalu pun, tetap kita temani. Kenapa tidak dengan Vietnam yang notabene tidak pernah punya masalah apapun dengan Indonesia sampai hari ini?

Belum lama kita dihebohkan dengan viral kunjungan kunjungan Sekjen Partai Komunis Vietnam, kita “diusilkan” dengan kejadian gambar bendera Indonesia yang terbalik di buku panduan SEA Games 2017 pun menjadi sorotan netizen di medsos, mereka dengan leluasanya memviralkan opini mereka di medsos.

Kondisi ini menggambarkan betapa dahsyatnya pengaruh media sosial telah membius masyarakat dan “mempoles” seseorang memainkan peran mau jadi apakah mereka?

Melalui media sosial, mereka bebas mengekspresikan jiwa, pikiran, dan pandangan mereka. Media sosial dijadikan wadah untuk mengkreasikan dan mengemas informasi.

Di balik itu semua, melalui media sosialpun  dapat berinteraksi dengan audience-fans/followers lewat posting yang engaging utuk mengundang tanggapan/respons, memahami para influencer (key opinion leader-KOL) di twitter, berkomunkasi dengan konsumen secara langsung (egaliter-tanpa batas), meningkatkan profile online brand dengan menegaskan keahlian di bidangnya, dan menciptakan traffic dengan memposting konten dengan link ke website dan blog perusahaan.

Tidak sedikit  dari kita yang menggunakan media sosial, sebagai ruang terbuka untuk “memperkaya” diri mencari peluang bisnis dengan mengindahkan apakah bisnis yang dilakukan melalui jalur “kanan” atau “kiri.’

Banyak dalang di balik media sosial yang mampu memainkan kata, gambar, dan video sesuka mereka untuk membuat atau merancang adegan “film’ untuk menarik perhatian masyarakat yang nantinya dapat menghipnotis masyarakat untuk medukung apa yang diviralkan oleh para dalang media sosial.

Kita, sebagai masyarakat tanpa disadari, sangat mudah terbius dari “keliaran” para dalang, tetapi sadarkah kita jika “keliaran-keliaran’ yang diviralkan di media sosial dapat membawa kita kearah negatif?

 Terbongkarnya, Dalang Hoax ‘Saracen”
Baru-baru ini di beberapa media massa, baik cetak, elektronik, dan online, mengungkapkan terbongkarnya sindikat bayaran ‘Saracen” yang menebarkan Hoax yang telah menyesatkan masyarakat di beberapa media sosial.

Saat informasi itu muncul ke permukaan, tentunya kita menanyakan “mengapa mereka tega menggadaikan kesatuan dan persatuan masyarakat Indonesia dengan sebuah bayaran? Apa Mereka telah tidak mempunyai naluri demi untuk memperkaya diri, mereka rela menebar ‘Hoax” yang dapat meracuni pikiran masyarakat dan taruhannya sebuah kerukunan dan kesatuan.

Apabila kita menengok kebelakang, kelompok yang menamakan “Saracen” berhasil diungkap oleh Direktorat Tindak Pidana Siber Badan Reserse Kriminal POLRI, mereka selama ini menebarkan isu SARAdi tengah masyarakat, seperti yang dilansir https://nasional.tempo.co/.  Salah satu anggota yang ditangkap berjenis kelamin perempuan. Saracen sendiri telah beroperasi sejak 2015  yang tmemiliki beberapa media sosial dan laman daring sendiri.

Penangkapan terhadap kelompok “Saracen” membuktikan realita saat ini, bahwa  fenomena perilaku masyarakat telah mengalami perubahan akibat adanya pergeseran budaya “instan.” Mereka dengan mudahnya menggunakan “dunia maya” sebagai efek perkembangan teknologi informasi untuk merekayasa data dan informasi serta menebar “virus” kepada masyarakat.

Melihat kondisi ini, memperlihatkan bahwa media sosial terkadang mengandung unsur pertengkaran, saling hujat-menghujat, saling serang, dan saling maki. Bahkan tahun 2018-2019, kita pun dihadapkan dengan kompetensi kondisi politik yang terus memanas.

Tidak dipungkiri bahwa saat ini kita mau tidak mau dihadapkan dengan dunia maya, salah satunya melalui media sosial. Media sosial bagaikan gurita yang melilit kita. Bahkan, media sosial pun bisa menjadi sebuah Harimau yang sewaktu-waktu bisa menerkam kita.

 Sudah bijakkah kita menggunakan  media sosial selama ini? Maukah kita memperkaya diri dan mempertaruhkan eksistensi kita dengan menggadaikan persatuan dan kesatuan bangsa?